Link Slide Share : Review Jurnal Determinan Faktor Sosial dan Ekonomi Terhadap Kemiskinan Penduduk
Tampilkan postingan dengan label Review Jurnal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Review Jurnal. Tampilkan semua postingan
Review Jurnal : Determinan Faktor Sosial dan Ekonomi Terhadap Kemiskinan Penduduk
Label:
Pengantar Ilmu Ekonomi,
Review Jurnal
- Sabtu, 27 Juni 2015
Review Jurnal : Urgensi Pembangunan Agroindustri Kelapa Sawit Berkelanjutan untuk Mengurangi Pemanasan Global
Label:
Jurnal,
Review Jurnal
- Minggu, 04 Januari 2015
Nama : Nurulita Rahayu
NIM : 41614010031
Jurusan : Teknik Industri
Review Jurnal
- Judul
Urgensi Pembangunan Agroindustri Kelapa
Sawit Berkelanjutan untuk Mengurangi Pemanasan Global
- Penulis
Wawan Kurniawan, Jurusan Teknik
Industri, FTI Universitas Trisakti
- Sumber Jurnal
Jurnal Teknik Industri, ISSN:1411-6340
This paper was done to learn about the
urgency of sustainability in agroindustry palm oil development to reduce global
warming. Nowadays global warming should reduce its bad influence to all of us.
As part of role in creation of global warming, palm oil industry have to
conduct sustainable development. Various tool can be implemented for reach it
such as AMDAL, Ecolabelling, ISO 14000, cleaner production and Roundtable on Sustainable
Palm Oil (RSPO). Conducting of sustainable agroindustry sustainability could
maintain our environment sustainable with the ultimate goal to reduce global
warming. could keep our environment sustainable which due to reduce global
warming.
- Tujuan
penelitian
Mempelajari urgensi pembangunan industri
kelapa sawit berkelanjutan untuk mengurangi pemanasan global dengan membahas
dari berbagai kebijakan dan instrumen manajemen lingkungan yang berkaitan
dengan agroindustri kelapa sawit.
- Implikasi Teori
dan Review Penelitian Terdahulu
Perkembangan
agroindustri kelapa sawit sangat menarik untuk dicermati. Di satu pihak
perkembangan ini membawa pengaruh positif terutama pada meningkatnya
penghasilan petani kelapa sawit dan pengusaha yang terlibat dalam agroindustri
ini, tetapi di pihak lain banyaknya masalah-masalah negatif yang muncul seperti
masalah sengketa tanah perkebunan kelapa sawit, masalah kerusakan lingkungan
akibat pembukaan hutan untuk perkebunan kelapa sawit hingga isu pengaruhnya
terhadap pemanasan global.
Perkembangan
agroindustri kelapa sawit tidak terlepas dari kebijakan pemerintah di mana
agroindustri ini dimasukkan ke dalam klaster industri yang akan dikembangkan
dalam periode jangka menengah tahun 2005-2009. Selain agroindustri kelapa sawit,
industri lain yang menjadi prioritas untuk dikembangkan adalah industri makanan
dan minuman, industri pengolahan hasil laut, industri tekstil dan produk
tekstil, industri alas kaki, industri barang kayu – termasuk rotan dan bambu –
industri pengolahan karet, industri pulp dan kertas, industri mesin listrik dan
peralatan listrik dan industri petrokimia.
Oleh
karena industri pengolahan kelapa sawit termasuk di dalam industri yang akan
dikembangkan perlu adanya nilai tambah dalam pengembangan tersebut untuk
meminimalisasi pengaruh negatifnya. Nilai tambah tersebut antara lain dengan
pembangunan industri kelapa sawit yang berkelanjutan.
Banyak
definisi tentang pembangunan berkelanjutan. Menurut Soekartawi (2001),
pembangunan agroindustri berkelanjutan (sustainable agroindutrial development)
adalah pembangunan agroindustri yang mendasarkan diri pada konsep berkelanjutan
(sustainable), dimana agroindustri yang dimaksudkan adalah dibangun dan
dikembangkan dengan memperhatikan aspek-aspek manajemen dan konservasi daya
alam. Sedangkan PPKS (2004) menyatakan bahwa agroindustri yang berkelanjutan
adalah yang produktif, kompetitif dan efisien, serta pada saat yang sama dapat
melindungi dan memperbaiki kondisi lingkungan alam dan masyarakat local.
Berdasarkan definisi tersebut, maka industri kelapa sawit yang berkelanjutan
paling tidak harus memenuhi tiga prinsip utama yaitu:
1. Melindungi dan memperbaiki lingkungan
alam (Environmentally sound)
2. Laik
secara ekonomi (Economically viable)
3.
Diterima secara social (Socially accepted)
Pembangunan
industri kelapa sawit yang berkelanjutan jika dilakukan dengan benar akan dapat
meredam isu-isu yang mengatakan pengembangan kelapa sawit menyebabkan kerusakan
lingkungan. Kerusakan lingkungan tersebut meliputi penurunan kualitas udara,
air dan tanah sampai ke tingkat isu pemanasan global (global warming) dan
perubahan iklim (climate change).
- Metodologi
Penelitian
Pengumpulan data dengan cara studi
pustaka dari berbagai literatur yang sesuai dengan masalah pembangunan
berkelanjutan, pemanasan global, dan kelapa sawit, serta interpretasi data
untuk membuktikan hipotesis.
- Hipotesis
Penelitian
·
Pengadaan industri kelapa sawit yang
berkelanjutan sesuai dengan instrumen menejemen lingkungan akan membantu
mengurangi dampak global warming.
·
Pembukaan lahan untuk perkebunan kelapa sawit
dengan cara pembakaran dapat menimbulkan efek rumah kaca akibat emisi gas
pembakaran yang dihasilkan.
- Hasil
Penelitian
Hipotesis 1.
Agroindustri
berkelanjutan adalah sistem agroindustri yang produktif, kompetitif dan
efisien, serta pada saat yang sama dapat melindungi dan memperbaiki kondisi
lingkungan alam dan masyarakat lokal. Berdasarkan definisi tersebut, maka
agroindustri kelapa sawit yang berkelanjutan paling tidak harus memenuhi tiga prinsip
utama yaitu:
·
Melindungi dan memperbaiki lingkungan alam (Environmentally
sound)
·
Layak secara ekonomi (Economically viable)
·
Diterima secara social (Socially accepted)
Pembangunan
industri kelapa sawit yang berkelanjutan jika dilakukan dengan benar akan dapat
meredam isu-isu yang mengatakan pengembangan kelapa sawit menyebabkan kerusakan
lingkungan. Kerusakan lingkungan tersebut meliputi penurunan kualitas udara,
air dan tanah sampai ke tingkat isu pemanasan global (global warming)
dan perubahan iklim (climate change).
Untuk
mencapai hasil yang diharapkan maka ketiga prinsip tersebut harus dilaksanakan
secara terpadu. Sebagai contoh siklus tanaman perkebunan kelapa sawit minimum
25 tahun, dengan demikian maka kerangka berkelanjutan harus berlangsung minimal
selama 25 tahun.
Berbagai
kebijakan dan instrumen manajemen lingkungan yang berkaitan dengan agroindustri
kelapa sawit berkelanjutan antara lain AMDAL, Ecolabelling, standar ISO 14000,
hutan lesatri, audit lingkungan, cleaner production dan Roundtable on
Sustainable Palm Oil (RSPO).
AMDAL
digunakan untuk mengambil keputusan tentang penyelenggaraan/ pemberian ijin
usaha dan/atau kegiatan. Dokumen AMDAL terdiri dari :
1. Dokumen Kerangka Acuan Analisis Dampak
Lingkungan Hidup (KA-ANDAL)
2. Dokumen Analisis Dampak Lingkungan
Hidup (ANDAL)
3. Dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan
Hidup (RKL)
4. Dokumen Rencana Pemantauan Lingkungan
Hidup (RPL)
Tiga
dokumen (ANDAL, RKL dan RPL) diajukan bersama-sama untuk dinilai oleh Komisi
Penilai AMDAL. Hasil penilaian inilah yang menentukan apakah rencana usaha
dan/atau kegiatan tersebut layak secara lingkungan atau tidak dan apakah perlu
direkomendasikan untuk diberi ijin atau tidak. Dari pernyataan tersebut dapat
disimpulkan bahwa peran AMDAL dalam perizinan industri kelapa sawit sangat
dibutuhkan berkaitan apakah industri tersebut sudah memenuhi standar kelayakan
yang berbasis pada lingkungan. Dengan begitu, konsep industri kelapa sawit
tidak melenceng dari prosedur.
Kegiatan
yang telah memiliki AMDAL dan dalam operasionalnya menghendaki untuk
meningkatkan ketaatan dalam pengelolaan lingkungan hidup dapat melakukan audit
lingkungan secara sukarela yang merupakan alat pengelolaan dan pemantauan yang
bersifat internal. Pelaksanaan Audit Lingkungan tersebut dapat mengacu pada
Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 42 tahun 1994 tentang Panduan
umum pelaksanaan Audit Lingkungan. Dokumen lingkungan yang bersifat sukarela
ini sangat bermacam-macam dan sangat berguna bagi pemrakarsa, termasuk dalam
melancarkan hubungan perdagangan dengan luar negeri. Dokumen-dokumen tersebut
antara lain adalah Audit Lingkungan Sukarela, dokumen-dokumen yang diatur dalam
ISO 14000, dokumen-dokumen yang dipromosikan penyusunannya oleh
asosiasi-asosiasi industri/bisnis, dan lainnya.
Untuk
mencapai industri kelapa sawit yang berkelanjutan diperlukan penerapan standar
ISO 14000 dengan konsisten. Perlu ditekankan bahwa penerapan ISO 14000 ini
seharusnya bukan merupakan beban, akan tetapi justru sebagai investasi bagi
perusahaan untuk meraih keuntungan yang lebih besar akibat penerimaan konsumen
yang lebih baik terhadap produk yang telah disertifikasi. Beberapa tujuan yang
akan dicapai dalam penerapan ISO 14000:
·
Optimalisasi produktivitas dan penghematan
biaya (efisiensi)
·
Mengurangi resiko lingkungan
·
Meningkatkan image organisasi
·
Meningkatkan kepekaan terhadap perhatian publik
·
Memperbaiki proses pengambilan keputusan
Dalam
pelaksanaannya, ISO 14000 terbagi menjadi dua bagian, yaitu:
1. Standar yang berorientasi pada organisasi
yang terdiri dari:
a. Sistem Manajemen Lingkungan (Environment
Management System)
b. Audit Lingkungan (Environment Auditing).
c. Evaluasi Kinerja Lingkungan (Environment
Performance Evaluation)
2. Standar yang berorientasi pada produk
yang terdiri dari:
a. Aspek Lingkungan pada Standar Produk
b. Pelabelan dan Deklarasi Lingkungan (Environment
Labels and Declarations)
c. Kajian Daur Hidup (Life Cycle
Assessment)
Dalam
pelaksanaan ISO 14000, semua aspek yang terlibat dalam industri kelapa sawit,
mulai dari pembukaan lahan sampai dengan pengolahan dan pembungan limbah harus
terbukti ramah lingkungan. Akhir-akhir tersedia teknologi baru hasil dari PPKS
maupun dari institusi penelitian dalam dan luar negeri di bidang budidaya dan
pengolahan kelapa sawit yang lebih ramah lenigkungan. Beberapa teknologi
tyersebut antara lain:
·
Pembukaan lahan tanpa bakar
·
Peningkatan biodiversitas
·
Peningkatan efisiensi penggunaan energi
·
Pencegahan erosi tanah
·
Daur ulang unsur hara
·
Pengendalian hama dan penyakit secara biologis.
Konsep
Produksi Bersih perlu diterapkan di agroindustri kelapa sawit karena bertujuan
meningkatkan kualitas lingkungan dengan lebih bersifat proaktif. Produksi
Bersih merupakan istilah yang digunakan untuk menjelaskan pendekatan secara
konseptual dan operasional terhadap proses produksi dan jasa, dengan
meminimumkan dampak terhadap lingkungan dan manusia dari keseluruhan daur hidup
produknya.
Badan
Pengendalian Dampak Lingkungan (Bapedal, 1995) mendefinisikan Produksi Bersih sebagai
suatu strategi pengelolaan lingkungan yang preventif dan diterapkan secara
terus-menerus pada proses produksi, serta daur hidup produk dan jasa untuk
meningkatkan eko-efisiensi dengan tujuan mengurangi risiko terhadap manusia dan
lingkungan. Strategi Produksi Bersih anatara lain mencangkup upaya pencegahan
pencemaran dan perusakan lingkungan melalui pilihan jenis proses yang akrab
lingkungan, minimisasi limbah, analisis daur hidup produk, dan teknologi
bersih, serta program daur ulang, pengolahan dan pembuangan limbah tetap
diperlukan, sehingga dapat saling melengkapi satu dengan lainnya (Bratasida,
1997).
Berdirinya
RSPO – meja bundar untuk minyak sawit berkelanjutan semakin memperkuat berbagai
upaya pencarian solusi-solusi yang mengutamakan kelestarian. Terdapat 8 prinsip
dan kriteria minyak sawit yang berkelanjutan berdasar pada kelayakan ekonomi,
sosial, dan lingkungan.
Permasalahan
yang harus dibenahi untuk pengembangan kelapa sawit berkelanjutan adalah faktor
penyediaan bibit berkualitas budaya kerja, dan kultur teknis. Untuk
mempersiapkan industri dan pelaku industri sawit dalam memenuhi
ketentuan-ketentuan Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO), maka
Indonesia harus bersiap-siap membenahi terlebih dahulu ketiga faktor utama
tersebut di atas selain faktor lingkungan dan teknologi pengolahan.
Hipotesis 2.
Pada
dasarnya setiap hendak ingin mendirikan suatu kawasan perindustrian harus
memperhatikan berbagai aspek, dimulai dari segi lingkungan, ekonomis maupun
sosialnya. Proses pembukaan lahan untuk kelapa sawit pda umumnya dilakukan
dengan cara dibakar. Hal itu dianggap mudah karena sangat mudah melakukannya,
murah dan cepat. Namun disamping semua kemudahan itu, efeknya sangat besar bagi
lingkungan dan objek biotik maupun abiotik. Konsep pembukaan lahan untuk kelapa
sawit seharusnya tanpa proses bakar (zero burning), bahkan dapat
dikatakan tidak diperbolehkan dengan cara pembakaran lahan. Pelaksanaanya
harus diawasi dengan benar melalui penegakan hukum dengan sanksi yang mengikat.
Umumnya, para petani kelapa sawit tradisional masih menggunakan metode
pembukaan lahan melalui proses pembakaran. Proses pembakaran bahan organik
adalah proses pematangan tanah dengan paling murah, walaupun bila dilakukan
dalam skala besar (perkebunan kelapa sawit skala besar) dapat meningkatkan
emisi gas karbon dionoksida dan mempengaruhi iklim global.
Selain
pembakaran lahan untuk membuka perkebunan kelapa sawit, ada beberapa hal lain
yang dapat memicu global warming yang bersumber dari perkebunan kelapa sawit,
antara lain :
·
Penggunaan lahan gambut untuk perkebunan lahan
sawit yang salah, ternyata sangat besar pengaruhnya terhadap pemanasan global.
·
Hutan alam menjadi sangat monokultur. Hutan
alam yang seharusnya menjadi sumber penangkap carbon menjadi berkurang
kemampuannya dalam menangkap carbon yang dapat mempengaruhi pemanasan global
(Efek Rumah Kaca).
·
Terganggunya Keseimbangan ekologis. Hilangnya
berbagai flora dan fauna yang khas dan unik menyebabkan keseimbangan menjadi
terganggu.
·
Kebutuhan tanaman kelapa sawit yang sangat haus
akan air tanah.
Beberapa
dampak negatif inilah yang antara lain menjadi alasan berbagai pihak yang
menuding agroindustri kelapa sawit terutama pada saat pembukaan lahan baru
sangat mempengaruhi pemanasan global
10. Kesimpulan dan
Temuan
Pembangunan agroindustri kelapa
sawit berkelanjutan sangat penting untuk diterapkan karena dapat membantu
mengurangi pemanasan global.
Untuk keberlangsungannya perlu
diberlakukan keharusan penerapan berbagai sistem manajemen seperti ISO 9000,
ISO 22000, HACCP, ISO 14000 dan OHSAS 18000 serta Roundtable on Sustainable
Palm Oil (RSPO) oleh berbagai pihak terkait industri kelapa sawit.
Perumusan visi-misi serta strategi
pengembangan perkebunan serta industri kelapa sawit yang berkelanjutan
merupakan acuan awal pengkajian persiapan kebijakan penerapan RSPO untuk
industri kelapa sawit Indonesia serta konsep desain kawasan agropolitan.
Penerapan prinsip – prinsip RSPO harus dievaluasi secara hati – hati oleh pihak
– pihak yang terkait di Indonesia dan menjadi perhatian pemerintah.
11. Saran untuk Riset
Selanjutnya
Studi literatur yang dilakukan
penulis sudah tepat, namun dalam sebuah penelitian diperlukan studi lapangan yang
berkaitan dengan objek yang akan disorot. Agar riset menunjukkan studi mendalam
mengenai keberadaan industri kelapa sawit yang berdampak pada global warming,
diperlukan penjelasan khusus mengenai alternatif untuk pembukaan lahan industri
kelapa sawit agar tidak menimbulkan efek rumah kaca, sebagaimana yang telah diketahui sebelumnya
bahwa umumnya pembukaan lahan dilakukan dengan cara pembakaran dan itu
berdampak buruk. Selain itu di dalam jurnal belum dijelaskan aspek-aspek yang
harus dipenuhi, terutama yang berkaitan dengan sistem menejemen lingkungan dan
dalam mengelola industri kelapa sawit, dimulai dari cara pembukaan lahan,
proses dalam perindustrian maupun metode-metode khusus hingga pengolahan hasil
buangan produksi atau limbah yang terpadu sebagai realisasi industri kelapa
sawit yang berkelanjutan.
Link to Jurnal : Urgensi Pembangunan Agroindustri Kelapa Sawit Berkelanjutan untuk Mengurangi Pemanasan
"Download" or "View via Slide Share"
Review Jurnal Pemilihan Katalis yang Ideal
Label:
Jurnal,
Review Jurnal
- Selasa, 21 Oktober 2014
Nama :
Nurulita Rahayu
NIM :
41614010031
Jurusan :
Teknik Industri
Review Jurnal
1. Judul
Pemilihan Katalis yang Ideal
2. Penulis
Dewi Yuanita Lestari, Jurusan
Pendidikan Kimia FMIPA UNY)
3. Sumber Jurnal
Prosiding
Seminar Nasional Penelitian, Pendidikan dan Penerapan MIPA, Fakultas MIPA,
Universitas Negeri Yogyakarta, 2 Juni 2012
4. Abstraksi
Kajian ini ditujukan untuk mempelajari
pemilihan katalis yang ideal. Penggunaan katalis dalam berbagai reaksi kimia
maupun proses industri semakin meningkat. Pemilihan katalis yang tepat tentunya
akan mengakibatkan hasil yang maksimal. Kriteria pertama yang dilihat dalam
pemilihan katalis biasanya adalah aktivitas dan selektivitas katalis. Selain
kriteria tersebut beberapa hal perlu diperhatikan dalam pemilihan katalis
antara lain: stabilitas katalis dalam kondisi operasi yang dipengaruhi oleh
peracunan katalis pengotor dalam umpan, deaktivasi katalis oleh satu atau lebih
produk, hilangnya aktivitas akibat penguapan, hilangnya aktivitas akibat
transformasi kristalografi. Selain itu perlu juga diperhatikan terkait dengan
legalitas katalis yang menyangkut hak paten. Dalam pemilihan katalis hendaknya
dihindari penggunaan katalis yang sulit ditemukan dan atau yang harganya mahal
karena hal tersebut menyebabkan biaya proses juga menjadi mahal. Katalis logam
biasanya diembankan pada suatu padatan pengemban(support) sehingga pemilihan
padatan pengemban yang optimum. Kriteria pemilihan pengemban antara lain
meliputi: stabilitas pengemban, sifat inert pengemban, biaya, legalitas terkait
hak paten. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa untuk suatu reaksi yang sama,
hasil reaksi bervariasi tergantung pada jenis katalis yang digunakan.
5. Tujuan penelitian
Untuk mengetahui pemilihan katalis yang
ideal untuk berbagai reaksi kimia yang terlibat dalam kegiatan industri agar
hasil yang dicapai optimal
6. Implikasi Teori dan
Review Penelitian Terdahulu
Katalis
merupakan zat yang ditambahkan dalam sistem reaksi untuk mempercepat reaksi.
Katalis dapat menyediakan situs aktif yang befungsi untuk mempertemukan reaktan
dan menyumbangkan energi dalam bentuk panas sehingga molekul pereaktan mampu
melewati energi aktivasi secara lebih mudah. Karena fungsinya yang sangat
penting, maka penggunaan katalis menjadi kebutuhan yang sangat penting dalam berbagai
industri. Kebutuhan akan katalis dalam berbagai proses industri cenderung
mengalami peningkatan. Hal ini terjadi karena proses kimia yang menggunakan
katalis cenderung lebih ekonomis.
Dalam mempercepat laju reaksi, katalis
bersifat spesifik. Artinya suatu katalis dapat mempercepat pada reaksi tertentu
saja tidak pada semua reaksi kimia. Contohnya, suatu katalis A mampu
mempercepat laju reaksi pada reaksi hidrogenasi namun kurang baik jika
digunakan pada reaksi oksidasi. Hal tersebut terikat erat dengan sifat fisika
dan sifat kimia katalis. Dalam reaksi yang sama terdapat beberapa kemungkinan
jenis material yang dapat digunakan dalam proses reaksi tersebut. Misalnya
dalam reaksi hidrogenasi dapat digunakan katalis Fe, Co, Ni (Le Page, 1987).
Kemampuan
suatu katalis dalam mempercepat laju reaksi dipengaruhi oleh berbagai faktor.
Faktor-faktor yang mempengaruhi performa katalis antara lain adalah sifat
fisika dan kimia katalis; kondisi operasi seperti temperatur, tekanan, laju
alir, waktu kontak; jenis umpan yang digunakan; jenis padatan pendukung yang
digunakan. Katalis yang dipreparasi dengan cara yang berbeda akan menghasilkan
aktivitas dan selektivitas yang berbeda (Rieke dkk, 1997). Kemampuan suatu
katalis dalam suatu proses biasanya diukur dari aktivitas dan selektivitasnya.
Aktivitas biasanya dinyatakan dalam persentase konversi atau jumlah produk yang
dihasilkan dari jumlah reaktan yang digunakan dalam waktu reaksi tertentu.
Sedangkan selektivitas adalah ukuran katalis dalam mempercepat reaksi pada
pembentukan suatu produk tertentu.
Karena
ada banyak faktor yang mempengaruhi kinerja katalis dalam mempercepat laju
reaksi, maka perlu dilakukan pemilihan katalis secara cermat sebelum
menggunakan katalis dalam suatu proses tertentu. Pemilihan katalis yang tepat
dalam suatu proses dapat menyebabkan proses yang diinginkan memiliki hasil yang
optimal. Sedangkan pemilihan katalis yang tidak tepat dapat menyebabkan proses
menjadi kurang efisien sehingga akibatnya juga menjadi kurang ekonomis. Bahkan
pemilihan katalis yang tidak tepat bisa juga menyebabkan adanya efek toksisitas
yang berbahaya ataupun dapat mencemari lingkungan.
7. Hipotesis Penelitian
o Kriteria yang dilihat dalam pemilihan
katalis adalah aktivitas dan selektivitas katalis.
o Ketidaksesuaian dalam pemilihan katalis
dapat menyebabkan efek toksisitas
8. Metodologi
Penelitian
Pengumpulan data dengan cara studi
pustaka dari berbagai sumber dan interpretasi data untuk membuktikan hipotesis.
9. Hasil Penelitian
Hipotesis 1. Kriteria pertama yang dilihat dalam pemilihan
katalis biasanya adalah aktivitas dan selektivitas katalis. Selain kriteria
tersebut beberapa hal perlu diperhatikan dalam pemilihan katalis antara lain:
stabilitas katalis dalam kondisi operasi yang dipengaruhi oleh peracunan
katalis pengotor dalam umpan, deaktivasi katalis oleh satu atau lebih produk,
hilangnya aktivitas akibat penguapan, hilangnya aktivitas akibat transformasi
kristalografi. Selain itu perlu juga diperhatikan terkait dengan legalitas
katalis yang menyangkut hak paten. Dalam pemilihan katalis hendaknya dihindari
penggunaan katalis yang sulit ditemukan dan atau yang harganya mahal karena hal
tersebut menyebabkan biaya proses juga menjadi mahal.
Dalam
melangsungkan suatu reaksi katalitik tidak hanya jenis katalis saja yang perlu
mendapat perhatian. Analisis terhadap reaksi katalitik sangat perlu untuk
dilakukan. Analisis ini dapat meliputi:
1. Umpan yang digunakan. Sangat perlu untuk
melihat produsen(sumber industri) yang memproduksi bahan umpan tersebut karena
akan menentukan dalam hal konsentrasi, jenis reaksi yang dilakukan dalam proses
sintesisnya, keberadaan zat pengotor baik yang bersifat inert maupun bersifat
racun. Salah satu contohnya adalah pada umpan dari oleochemical. Sejumlah kecil
organosulfur merupakan pengotor dalam bahan baku oleochemical yang dapat
mengakibatkan deaktivasi katalis tembaga yang digunakan untuk hidrogenolisis
ester menjadi fatty alcohol. Brand et al. (1999) mempelajari deaktivasi katalis
Cu/SiO2 dan Cu/ZnO/SiO2 akibat adanya sulfur pada hidrogenolisis
metil palmitat dalam fasa cair. Laju deaktivasi sangat cepat dan meningkat
sebagai fungsi keberadaan komponen sulfur sebagai berikut: octadecanethiol ≈
dihexadecyl disulfide < benzyl isothiocyanate < methyl p-toluene
sulfonate < dihexadecyl sulfide < di-benzothiophene. Proses deaktivasi
berlangsung dengan cepat karena terbentuk sulfida pada permukaan selama kondisi
proses hidrogenolisis. Umur katalis yang menggunakan seng sebagai promoter
adalah dua kali lebih lama dibandingkan dengan katalis Cu/SiO2. Hal ini terjadi
karena terbentuknya seng sulfida pada permukaan katalis.
2. Produk yang diinginkan yang meliputi
kemurnian, spesifikasi komposisi
3. Mekanisme yang mungkin terjadi
berdasarkan data yang tersedia dari penelitian terdahulu. Mekanisme ini tidak
hanya enyangkut reaksi utama tetapi juga menyangkut reaksi samping yang harus
dihindari.
4. Kompilasi data termodinamika yang
berkaitan dengan perkiraan mekanisme reaksi
5. Evaluasi ekonomi yang menyeluruh dalam
hal umpan, harga produk, perbandingan antara ongkos dan harga, tingkat minimal
aktivitas dan selektivitas yang dibutuhkan untuk proses yang ekonomis (Le Page,
1987).
Hipotesis 2. Toksisitas katalis adalah salah satu hal
yang perlu diperhatikan dalam pemilihan katalis. Meskipun suatu katalis
memiliki aktivitas dan selektivitas yang tinggi dalam suatu proses namun bila
bersifat toksik hendaknya penggunaannya dihindari agar tidak membahayakan. Atau
dapat dikatakan bahwa terus perlu dikembangkan penggunaan katalis lain yang
aktivitas serta selektivitasnya tinggi tetapi tidak bersifat toksik. Salah satu
contohnya adalah katalis yang biasa digunakan dalam hidrogenasi ester yaitu
Cu-Cr
10. Kesimpulan dan
Temuan
Pemilihan
katalis merupakan langkah yang penting untuk memperoleh hasil yang optimal
dalam suatu proses. Dalam suatu reaksi yang sama, hasil reaksi bervariasi
tergantung pada jenis katalis yang digunakan. Oleh karena itu dalam memilih
katalis untuk digunakan dalam suatu proses hendaknya tidak sekedar melihat
aktivitas dan selektivitasnya saja tetapi juga berbagai hal lain seperti
toksisitas, stabilitas katalis dalam kondisi operasi, nilai ekonomi, aspek
legalitas. Untuk dapat memilih katalis yang tepat diperlukan penelusuran
referensi dan analisis yang tepat.
11. Saran untuk Riset
Selanjutnya
Agar riset menunjukkan hasil yang
lebih akurat dalam penentuan katalis yang tepat, mungkin dapat dikembangkan
dengan beberapa penelitian melalui beberapa eksperimen terhadap katalis yang
akan di uji dan dampaknya pada bahan yang akan diuji. Sifat katalis yang
selektif terhadap suatu zat berbeda beda, oleh karena itu diperlukan penelitian
lebih lanjut agar mengetahui kecocokan katalis dan optimasi kerja katalis
terhadap suatu reaksi kimia.
Langganan:
Komentar (Atom)




